lost
Apakah wajar jika saat ini aku merasa kehilangan arah? kehilangan segalanya? Tiba – tiba aku menjadi lemah tak berdaya. Aku hanya bisa pasrah tanpa mampu berkata – kata. Dengan sedikit sisa kekuatanku aku mencoba untuk bertahan dan bersiap menghadapi kenyataan yang pasti akan lebih menyakitkan, menghujamkan ribuan panah menusk sukma, luka dan mungkin bernanah. Seribukalipun aku mencoba meraihnya, maka yang ada kutemukan hanyalah ilusi semu yang hanya membakar asa. Tetes air mata ini pun seolah tak mampu lagi mengembalikan sisa asa yang masih melekat dalam nurani terdalam yang kini kelam.
seandainya masih ada hal yang dapat kulakukan untuk mengembalikan harapan itu, maka aku akan melakukannya sekalipun aku harus mempertaruhkan segalanya. Namun apalah daya seorang manusia lemah yang jauh dari sempurna mengharapka sesuatu yang sempurna? Satu – satunya cahaya yang kumiliki mulai redup dan sirna di telan malam. Raib, menghilang tanpa jejak, tanpa pesan, hidup memang tidak pernah adil bagi manusia seperti aku. Menyakitkan, memilukan, perih tak terperi… Ia tidak lagi hadir,Ia tidak ingin lagi berbagi, Ia memilih mencari pelabuhan baru yang mungkin menjanjikan keteduhan baru atau mungkin juga semu bahkan palsu.
Aku gagal merangkulnya agar tetap bertahan, meski sebenarnya masih ada harapan untuk mempertahankan segala sesuatu yang pernah dibangun… Andai saja Ego itu tidak menjadi pemenang tunggal, andai saja emosi itu bisa kalah setiap kali sifat manusiawi yang jauh dari sempurna ini bisa berperang mengalahkan ego itu… tentu semua tidak akan berakhir dengan sia – sia, menyisakan sejuta luka.
Apakah sang ego itu dapat memahami, jika dua anak manusia berusaha berjalan dan menyebrangi sebuah jurang yang dalam, pasti mereka akan sering terjatuh, terluka dan mungkin kehilangan tenaga. Namun untuk sampai di tujuannya, mereka harus tetap saling berpegangan tangan agar dapat samapi ke tujuan dan menyaksikan sesuatu yang belum pernah di saksikan. Bagaimana jika salah satu diantara mereka tiba – tiba enggan melanjutkan perjalanan itu? tentu mereka berdua tidak akan pernah sampai pada tujuan semula. Sebuah tujuan sakral yang kadangkala harus diuji dengan berbagi rintangan. Jikalaupun itu terasa sangat sukar hingga membuat salah satu ingin menyerah, seharusnya ada yang menopangnya, hingga keduanya bisa sampai pada tujuan yang sama… jika tidak, maka sudah pasti mereka tidak akan pernah sampai pada tujuan itu. tidak pula akan pernah berdiri sebagai pemenang, karena sang ego telan menjadi pemenang terlebih dahulu.
Andaikan saja manusia dilahirkan dengan bekal berjuta toleransi, andaikan saja manusia dilahirkan dengan bekal berjuta rasa empati. Ia tentu tidak akan mudah untuk menutup mata hati terdalam, bagian yang hanya akan dibagi kepada sebuah hati lain, bukan pada beberapa hati sekaligus. namun terkadang manusia hanya ingin mencari cara yang menurutnya akan menempatkan dia pada titik aman, pada titik dimana dia tidak akan merasa terancam. Sebuah tempat yang mungkin akan memerdekakan egonya yang bisa saja salah.
Aku manusia yang baru saja kalah, manusia yang baru saja menerima mahkota sebagai pecundang sejati. Ego membuatku buta, aku bahkan tidak sanggup memberi sedikit ruang hati bagi yang sudah pernah singgah yang berusaha menjaga dan memintanya agar tidak beranjak dari tempat semula. Andaikan aku berkuasa atas takdir, aku tidak ingin menjadi yang tersingkir, tapi aku hanya makhluk yang terpinggir diantara ego dan emosi yang menyala. Aku terpaksa menyingkir dari kenyataan hidup yang sedang menguji kemurnian hati…
Seandainya ada cara untuk dapat meyakinkan keraguan itu, tentu mata hati masih bisa berbicara, setidaknya berbisik… tentang sesuatu yang masih ingin dibagi, hingga senja padam dan tak lagi mampu memendarkan sinarnya. Apakah aku tidak pernah bersyukur atas apa yang aku punya saat ini, atas apa yang sudah pernah aku miliki dan aku sayangi? Apakah aku kurang bersyukur sehingga menolaknya untuk tetap hadir, menemani sisa hidup yang mungkin tidak akan panjang… Andaikan aku bisa membuktikan bahwa di dunia ini ada cinta sejati, cinta yang ingin setia sampai mati, tentu saat ini aku tidak akan berada pada sisi paling menyakitkan yang disebut patah hati… Akhirnya aku gagal menjadi pemahat hati yang pernah kuukir dengan kasih yang ingin berbagi, memberi dan menerima dalam segala kekurangan atau kelebihan.
Aku menghormati cinta yang kupunya, tidak sekalipun ingin berkhianat atasnya, meski aku harus terus belajar agar suatu saat aku dapat memahami siapa dan bagaimana orang yang aku cintai… tapi aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk itu. Tidak juga mendapat sedikit ruang dan waktu untuk sekedar membuktikan bahwa aku juga layak diberi kesempatan, aku juga layak untuk diberi jalan menuju sebuah istana bernafaskan cinta.
Aku lebih baik menjadi yang disakiti daripada harus menyakiti.. meski tidak pernah dia mampu melihat betapa dalam rasa ini, aku memilih untuk memberinya bahagia dengan caranya sendiri… karena mungkin itul adalah salah satu pembuktian tertinggi akan makna sebuah cinta yang berasal dari hati, putih, suci, murni dan tak akan pernah ternodai oleh apapun dan siapapun yang ingin mengotorinya.
Meski masih pagi, aku mencintainya sepenuh hati, tanpa ingin mencari kesalahan untuk menghukumnya. Bagiku setiap kesalahan itu adalah pelajaran, yang bisa diperbaiki hingga menjadi pengalaman tak ternilai. Karena sejatinya, manusia memang harus selalu siap untuk membenahi diri, agar mampu memahami apa arti perbedaan. Agar mampu memaknai arti sebuah kesetiaan pada sebuah janji yang pernah diikrarkan bersama. Seandainya pun janji itu masih dibangun di atas pasir, tak akan kubiarkan angin menerpanya, agar aku tetap bisa bertahan, sambil terus mencari sisi terbaik yang bisa kujadikan pegangan. Kelak aku akan menyadari, jika berhasil melewati ini semua, aku akan lebih menghargai apa yang aku miliki saat ini..
Bagaimanapun usahaku mencari, tidak akan pernah kutemukan kesempurnaan sejati. Mengapa tak pernah kau biarkan saja aku mencintai dari kekurangan ini, sehingga aku dapat lebih menghargainya dan menghormatinya sebagia sebuah anugerah yang tak dapat kubagi begitu saja pada setiap hati. Tapi apakah aku lemah, apakah aku selalu ingin berada pada titik nyaman, apakah aku takut pada kenyataan, takut pada cobaan, takut pada semua hal yang kelihatannya menyakitkan. Ah, semoga saja semua itu hanya datang untuk menguji hati.
22.35, Jakarta bagian selatan, ditemani rintik hujan, sang inspirator yang mengacaukan hati dan otakku yang sedang kotor, aku bukan koruptor, aku hanya seorang pendongeng yang sedang mencoba untuk berbagi, tanpa menjadi diktator atau tukang teror!!! Ah…. telor!!!