Unfinished Story

>>> this story about nobody, dedicated to nobody…

Kemarin aku menunggu kamu ditempat yang sama, di ruang yang sama. Kemarin aku datang menunggu kamu. lebih awal, lebih pagi. Aku tidak ingin pergi kemana – mana. Kemarin aku hanya ingin menunggu kamu. Menunggu hadirmu atau sekedar menunggu sapamu di ujung telepon. Tapi hadirmu tak kunjung datang. Tak juga menghampiri. Saat aku hampir beranjak, sejenak kudengar suaramu yang melemah di ujung telepon. Aku pun tidak mungkin memaksamu untuk bercerita lebih lama. Akupun tidak mungkin mengajakmu bertukar cerita apalagi untuk berbagi canda. Aku tahu kau lelah. Lagipula, porsi yang tersedia untukku tak mungkin akan pernah sama dengan apa yang dimilikinya. Aku tidak pantas untuk itu. Karena aku hanya seseorang yang bukan siapa – siapa, juga tidak akan pernah menjadi siapa – siapa. Aku juga datang tidak dari mana – mana, hanya ingin mencoba singgah kala hatimu membutuhkan sedikit pelarian untuk singgah dan berteduh. Aku memahami, tidak ada cinta sejati yang dibagi, mungkin hanya kebersamaan yang dapat dibagi. Aku bukan yang pertama, aku hanya yang kedua atau bahkan yang keberapa. Tidak ada yang istimewa, jadi aku harus mencoba terbiasa dengan yang biasa – biasa. Aku tidak bermaksud menuntut macam – macam. Tidak ingin meminta macam – macam. Tidak juga sedang membuat segalanya semakin runyam. Aku hanya sedang berusaha, belajar dan berdoa. Biarkan rasa yang bicara. Biarkan cinta yang bekerja. Demi waktu, aku tidak mau berlama – lama, aku mungkin tidak akan lama, hanya singgah sesaat dan mungkin bayangkupun tak akan lagi ada.

Katamu andai kau bisa menebus semua harga dari kecewa, sakit dan sedih yang aku dapat saat aku mencoba untuk mencintai dan dicintai olehmu. Katamu aku tidak pantas untuk sakit, sedih dan kecewa. Tidak perlu kamu minta maaf untuk itu. Simpan saja maafmu untuknya, bukan untukku. Jangan kecewakan dirinya, bukan diriku. Sengaja, aku sengaja, menempatkan diriku di urutan paling rendah dalam hidupmu, karena memang aku bukan siapa – siapa. Aku terlalu cerdas untuk menjadi seseorang yang lemah dan mudah menyerah. Aku tahu, mereka bilang aku bodoh, aku goblok. Persetan dengan orang – orang itu. Aku hanya ingin aku segera menyelesaikan cita – citaku yang tertunda bersamamu, maka aku akan meninggalkan kamu beserta semua kebahagiaan yang akan aku titipkan, simpanlah semua untukku. Jagalah bahagia itu hanya untukku. Rasa itu, kenangan itu. Jangan pernah kau cari aku, karena aku bukan untuk dicari. Kelak kau akan bisa menemukanku dimana – mana. Di tempat sampah, di angkutan kota, di terminal, di taksi, di jalan raya, di pasar, di mall, di hingar – bingar lampu diskotik, di gereja, atau mungkin di surga. Aku ada dimana – mana. Kenangan bersamamu telah kutanam di segala arah. Aku tidak akan pergi kemana – mana. Aku akan tetap disini saja. Menanti yang entah sampai kapan aku bisa. Aku kangen. Aku rindu. Aku ingin bertemu. Tapi mungkin kita terlalu jauh dipisahkan oleh jarak. Dipisahkan oleh keadaaan. Tak ada seorangpun yang tahu, betapa aku sangat menginginkanmu. Betapa aku selalu merindukanmu. Betapa aku selalu memikirkanmu. Sosokmu bagai oksigen yang senantiasa dibutuhkan. Tak tergantikan. Oleh siapapun. Oleh apapun. Sampai kapanpun. Karena kau adalah nafas yang mengalir menuju rongga terdalam dalam tubuhku. Tapi aku harus menata hidupku sendiri. Aku hanya pecinta. Aku bukan penyair. Aku bukan pujangga. Jadi aku harus menata hidup, kembali pada realita. Meneruskan cita – cita keluarga. Berprokreasi, dengan entah siapa. Jika saja aku punya kuasa untuk memilih, aku ingin tetap seperti ini saja, tapi akupun tak bisa memilih.Sejak sel telur bersatu dengan sperma yang kelak menjadikanku manusia, sejak itulah aku tak punya kuasa memilih. Tapi cintamu memilihku. Aku memilih melebur dengan cintamu. Bermolekul dengan segala bentuk keindahanmu. Menjadi sebuah unsur. Yang tak akan pernah mampu terurai oleh reaksi kimia manapun. Hanya saja, ragaku tidak memiliki kuasa untuk bereaksi, menolak penyakit sialan yang melucutiku dengan sebuah perpisahan kelak. Ragaku perlu pembuahan. Hanya mampu ditebus dengan melahirkan anak. Agar tubuh ini tak lagi sesak. Demi masa depanku kelak. Ini bukan berarti aku yang memilih. Aku hanya menyerah. Pasrah pada yang punya kuasa. Pasrah pada apa yang tak pernah bisa kupilih. Meninggalkanmu adalah sebuah kepasrahan agar aku juga dapat bertahan lebih lama. Mohon maaf, aku tetap tak bisa memilih. Kelak,  aku tak lagi bisa menikmati segala lelucon jenaka. Mencumbu kesegaran pagi, saat kau mulai terjaga dari mimpi. Hidup ini tidak semata untuk bercinta. Tidak semata untuk bersama. Semua ada jalan sendiri – sendiri. Kalau saja semua orang berani kembali pada realita. Kalau saja semua orang berani berhadapan dengan nyata. Aku memang pecinta, tapi aku adalah manusia biasa. Andai aku bisa berbincang dengan Tuhan. Andai saja aku bisa bernegosiasi denganNya. Aku akan mempertanyakan, masih mungkinkah aku bersama dan terus bersama denganmu, tanpa ada dosa. Tanpa ada cela. Tanpa takut. Tanpa ragu. Tanpa tanpa yang lain. Namun aku tahu, Dia adalah Sang Maha. Andai aku punya kuasa atas cinta, atas hidup atas segala dilema. Bangsat. Aku memang bangsat. Aku tidak ingin selamanya jadi bangsat. Mungkin ini hanya awal sebuah perjalanan. Perjalanan untuk kembali pada titik awal. Dimana aku tidak tersentuh oleh setetes noda dari bangsat – bangsat jahanam yang menjadikan aku semakin bangsat. Apa yang salah dengan menjadi bangsat? Akupun tidak tahu. Aku hanya tahu, kalau aku pernah begitu bahagia, saat pertama kali kureguk madu cintamu. Meski aku tahu, teramat mahal harga yang harus kubayar. Setidaknya kita pernah mabuk. Begitu mabuk oleh cinta. Disana ada  orgasme yang sempurna. Klimaks tiada tara. Mungkin aku tak akan selamanya berada di tempat yang sama, dimana aku masih menunggu kamu hingga kemarin berlalu. Tak mungkin memilih tinggal di tempat yang sama. Jika purnama tak lagi menyapa malam, aku telah berada dalam neraka jahanam. Atau aku mati dirajam. Demi menghapus segala kelam. Mungkin aku sedang terancam. Kuteringat Sang Pencipta alam. Tuhan adalah kekuatanku, bersama Dia ku tak akan goyah. Tapi aku lemah. Aku goyah. Adakah Tuhan masih bersamaku. Mungkin iya, mungkin tidak. Hidupku sudah teramat susah. Aku sudah tak kuasa untuk berada terus – menerus berperang dalam kubangan  sampah. Aku butuh hadirmu. Mungkin karena itu aku selalu merindu. Selalu menunggu. Menghitung setiap detik yang berlalu. Berikan aku sedikit mantaramu untuk menguatkan aku, untuk menopang aku. Sebab tidak mungkin aku bergelayut selamanya di pundakmu. Tak apalah, aku masih akan menunggumu. Bersetia untuk menanti yang terkasih. Andai saat ini kau ada, tak perlu hujan mengalir di pipi. Apakah aku terlalu cengeng? Apakah aku terlu manja? Apakah aku terlalu lemah? Otakku baru saja keluar dari kepala. Meleleh entah dimana. Sejenak aku menoleh ke luar. Ada banyak orang mencoba lari dari realita. Tapi aku tidak seperti mereka. Meski aku lemah, aku manja dan aku cengeng, tapi aku ingin mati sebagai ksatria. Sebagai manusia dengan kekuatan di atas rata – rata. Ksatria tidak pernah marah apalagi kalah. Tidak akan putus asa. Tidak akan menyalahkan orang lain. Biarkan cinta menjadi pedang bagi sang ksatria. Senjata yang membuatnya semakin kuat. Berjuang di medan asa. Mencari sepenggal rasa. Rasa cinta. Rasa sakit. Rasa. Asa. Merebut segala kemungkinan. Mencoba  terus bertahan dalam segala keadaan. Baik atau buruk. Tawa atau air mata.  Bercanda dengan nestapa. Bermain dengan maya. Berharap bertemu sang dewi, meski hanya di alam mimpi. Mengajak sang ksatria pergi menjelajah seluruh negeri, hingga mentari berganti rembulan. Menunggu dengan segala setia yang masih tersisa. Segala setia yang masih ada. Tersimpan hanya untuk yang tercinta, berada entah dimana.

PS : untuk yang tercinta, yang terindah yang pernah ada. Dimanapun ragamu kini, disana ada rinduku bersemayam di dasar hatimu. Terimakasih kekasihku untuk tidak membawaku terlalu jauh melawan dunia ini, meski aku mau, tapi terlalu banyak yang menunggu. Diriku bukanlah sepenuhnya milikku. Beri aku sedikit ruang di hatimu, untuk tetap membangunkanmu kala mimpi buruk mengusik walau hanya setitik. Ingat saja, kemarin aku masih menunggu, hingga tak ada batas waktu. Aku tetap menunggu, meski ribuan masa akan berlalu. Setidaknya kau tahu sesuatu, aku menunggu di ruang rindu yang biru. Semu.

4 Responses to “Unfinished Story”

  1. indra pramana Says:

    giLa dalem bngt LOe phIee …..
    g NYangka gua …..
    ya moga aja loe tegar ya N cabar mngkin dia tercipta bkn untuk loe miliki.
    kadang mmng cinta seprti itu phiee menyakitkan,
    di saat orng yg qtha cintai tak bisa qtha miliki.
    ternyata ada jg orng yg ngalamin hal yg sama ky gua. mencintai tp bkn untuk memiliki karna mmng tak bisa untuk memiliki. apalagi gua phie cwe yg gua sayang N cintai da jd milik orng lain dan sudah di pisahkan oleh status yg g akan mngkin brani gua wat menembus batas itu, cz mmng gua ngerasa smuanya da berkahir N gua g mau menjadi seorang pendosa karna ingin menghancurkan mahligai indahnya berkeluarga hanya untuk tercapinya cinta yg selama ini gua rasa dan gua simpan.
    loe tau butuh waktu lama bngt wat ngelupain dia phie sampai gua harus menghilang jauh dari kehidupan dia.gua keluar kota wat belajat mengerti dan menerima itu smua phiee.
    jujur sbnrnya msh ada cinta diantara kita phiee,cz dia meried jg bkn semata” keinginannya akan tetapi orng tuanya phiee yg menjodohkan dia.
    sampai akhir ini pun jujur gua masih sayang N cinta sma dia phiee bgtu kuat rasa yg gua miliki sampai” smakin gua cb wat menghilangkan rasa itu dan cb untuk tak memikirkan dia … malah rasa itu smakin kuat menghunus di dada gua phiee,menurut loe apa gua bego,tolol,bodoh atau apalah itu ga sih phiee?
    rasa takut akan terulang kembali kejadian ini yg bkin gua mls wat merasakan jatuh cinta lg cz mmng di samping gua lum bisa ngelupain dia ya gua jg bisa di blng trauma.
    bnyk tmn” gua yg cb” comblangin gua ama siapa ajj tp gua g bisa N g mau. yaaaaaa g tau lah
    wkwkwkwkkk knp gua jd curhat
    tp ya pesen gua loe yg kuat N sabar ya phiee, mngkin dia mmng bkn soulmate yg di utus tuhan buat loe phiee.

  2. sophiebarat Says:

    wkwkwkwkwwkwkkwkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
    neh kan bukan pengalaman gw bro….
    ngakak gw………..
    anyway, thanks bro…

  3. sophiebarat Says:

    guys, thanks a lot for your attentions ya….
    huehuehuehuehueee……..

  4. bagas ni holong mi…
    so tardodo hasian…

    sampe bingung aku mencerna kata-katanya.
    tulisan yang bagus ito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.